Oleh : Maria Febriyanti Soi Kelen
Komunitas Literasi SMP Negeri 1
Lewolema Kelas (IXA)
Teman
-teman semua pasti pernah merasakan dingin sampai merinding bukan?Aku yakin,
teman-teman pasti sudah merasakannya. Bagaimana rasanya dingin pantai hingga
membuatmu merinding...?
Sore
itu, Selasa 7 Agustus 2018, kami Komunitas Literasi SMPN 1 Lewolema mengadakan
Kegiatan Literasi di Pantai Baunbotin. Lokasi pantai ini di Waimana II Desa Halakodanuan
Kecamatan Ile Mandiri.
Masuk
di pantai berpasir putih ini, kamu akan merasakan dinginnya angin laut menusuk
hingga ke rusuk membuat siapa saja pasti merinding. Pantai berpasir putih
dipenuhi pepohonan yang rimbun.Terdapat beberapa pohon kelapa di
pesisirnya.Angin sepoi dengan hijaunya tanaman bakau menambah keindahan pantai
yang tak jauh dari sekolah kami ini. Hembusan angin
yang sejuk membuat buluk kudukku berdiri hingga merinding.
Dalam
posisi duduk beralaskan pasir pantai, dan raga yang sedang menggigil, tidak
menyurutkan semangatku untuk mengikuti kegiatan literasi sore itu.Apa yang
menarik..? Sore itu kami didatangi seorang Wartawan.Namanya Feliks Janggu. Ia
adalah Wartawan Pos Kupang. Dari pakian yang dikenakan, tampak orangnya sederhana.Walau baru pertama kali itu
kami bertemu, sapaannya sangat bersahabat.Tatapannya yang bersahabat membuat
kami tidak merasa canggung.Setelah melakukan perkenalan singkat, K Feliks
Janggu meminta kami satu kata yang kami lihat di sekitar kami.Baginya menulis
tidak sulit bagi orang yang tidak mau latihan.Maka untuk bisa menulis, butuh
latihan.Harus segera menulis kata pertama.
Saya
dengan segera menulis kata yang diminta. Kebetulan di depan saya terdapat
tanaman bakau, saya kemudian dengan sigap menuliskan kata bakau. Kami dipandu
untuk membaca kata yang kami tulis. Ada yang menulis laut, ombak, kelapa,
pohon, batu, buku, tas dan lain-lain. Ama, putra Pa Maksi Siswa SD Kelas II SDI
Supersemar Larantuka yang sore itu turut terlibat dalam kegiatan menulis kata
pasir.Ia juga mendapat kesempatan menulis kata yang ia tulis. Walau masih
malu-malu berhadapan dengan kami siswa SMP.
Setelah
menulis satu kata, dengan gaya santai tapi serius, K Feliks kembali mengarahkan
kami untuk mengembangkan satu kata tadi menjadi satu kalimat. Dan seterusnya
menjadi satu paragraf. Sambil itu, K Feliks terus memotivasi kami untuk
menggunakan indra pendengaran, penciuman dan peraba untuk menginspirasi kami
dalam mengumpulkan data sebagai bahan melengkapi tulisan kami.
Serunya
kegiatan sore itu sebab, tidak ada teori yang panjang. Hanya beberapa konsep dasar tentang menulis dan kami
diberikan ruang untuk berlatih.Waktu sudah menunjukan pukul 17.00 Wita, artinya
kami harus menutup kegiatan kami sore itu. Kami pulang dengan hati
berbunga-bunga, bisa mengenal seorang wartawan dan darinya kami memperoleh ilmu
gratis.***